Image and video hosting by TinyPic
relojes para web free clock for website
KOMENTAR & SARAN
Proposal Penelitian KW-TY (BHS-1) 2009/2010
Selasa, 30 November 2010

I. Peneliti (Kelompok Bahasa-1)

Ketua : Deddy Wigraha Kadek

Sekretaris : Sidhi Surya Libhi Kadek

Bendahara : Oky Widayanti Luh

Anggota : Riko Rosiana Gede

Rendy Juni Lesmana Gede

Erma Suarjaya Gede

Emi Saraswati Kadek

Mentari Komang

Dwi Aryadi Ketut

Indah Yani Komang

Sadnyani Putu

Cahayani Kadek

Virgotama Krissanta Kadek

Juliatmanto Komang

Hersan Suheri Putu

Pembimbing I : Drs. Made Jeneng

Pembimbing II : Gede Putra Adnyana, S. Pd.

II. Judul

Peranan Balai Arkeologi Denpasar Dalam Bidang Pendidikan Dan Pariwisata Di Bali

III. Lokasi Penelitian

Lokasi Penelitian: Balai Arkaeologi Denpasar, Jalan Raya Sesetan no 80, Denpasar, Bali

IV. Pendahuluan

4.1 Latar Belakang

Pembaruan sistem pendidikan nasional yang dilakukan oleh pemerintah dewasa ini merupakan langkah awal yang baik untuk menciptakan tatanan sistem pendidikan nasional yang berkualitas tinggi. Sehingga kelak menghasilkan lulusan yang kompetitif, berbudi pekerti luhur serta perduli terhadap lingkungan dan persoalan masyarakat.

Pengajaran sejarah disekolah bertujuan agar siswa memperoleh kemampuan berpikir historis dan pemahaman sejarah. Melalui pemahaman sejarah siswa mampu mengembanghkan kompetensi untuk berpikir secara kronologis dan memiliki pengetahuan tentang masa lampau yang dapat digunakan untuk memahami dan menjelaskan keragaman sosial budaya dalam rangka menemukan dan menumbuhkan jati diri bangsa di tengah-tengah kehidupan masyarakat dunia, sedangkan benda-benda peninggalan masa lampau merupakan bukti peninggalan peradaban manusia pada masa prasejarah.

Zaman prasejarah dimulai sejak adanya manusia yang selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya serta untuk dapat mempertahankan dan melestarikan keturunannya. Benda-benda peninggalan sejarah dapat dijadikan sebagai bahan untuk mendapatkan informasi-informasi tentang peradaban manusia di masa lampau. Benda-benda masa lampau dapat berupa fosil yang merupakan sisa-sisa kehidupan mahluk hidup yang telah membatu seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan, begitu juga manusia purba.

Benda-benda purbakala yang ditemukan saat ini dapat digunakan sebagai informasi bahwa pada zaman dahulu terdapat kehidupan dengan peradabannya tertentu. Sedemikian pentingnya benda-benda purbakala tersebut sebagai bahan kajian mempelajari kehidupan masa lampau sehingga perlu dilaksanakan penggalian dan pemeliharaan benda-benda tersebut.namun kenyataannya benad-benda purbakala tersebut dipandang sebelah mata oleh masyarakat,oleh karena itu keberadaannya tidak mendapat perhatian yang serius di kalangan masyarakat.jika kondisi ini terus tidak mendapat perhatian tidak tertutup kemungkinan benda-benda purbakala tersebut akan hilang,hancur bahkan musnah sebelum dapat dipelajari.Pendirian balai arkeologi merupakan langkah mengantisipasi kondisi yang memperihatinkan tersebut.

Demkian juga halnya dengan keberadaan Balai Arkeologi Denpasar yang terletak di Jalan Raya Sesetan no 80, Denpasar,yang mempunyai fungsi untuk melestarikaan peninggalan sejarah yang ditemukan di daerah Bali.Balai Arkeologi Denpasar dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif sumber belajar dalam mempelajari peradaban manusia masa lampau yang ada di Bali.

Berkaitan dengan hal tersebut, untuk mengetahui lebih detail keberadaan dan koleksi-koleksi di Balai Arkeologi Denpasar, maka siswa SMAN 1 Banjar yang tergabung dalam kelompok bahasa-1, mengadakan Karya Wisata dengan mengunjungi Balai Arkeologi Denpasar. Tujuan dari kunjungan tersebut adalah mengetahui sejarah, tugas dan fungsi, serta koleksi bendanya. Disamping itu untuk mengetahui hubungan Balai Arkeologi Denpasar dengan dunia pendidikan maupun dunia pariwisata di Bali.

4.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas,maka rumusan masalah dalam penelitian ini,sebagai berikut :

1) Bagaimana peranan Balai Arkeologi Denpasar dalam mendukung bidang pendidikan di Bali?

2) Bagaimanakah peranan Balai Arkeologi Denpasar dalam mendukung dunia Pariwisata di Bali?

3) Upaya-upaya apakah yang dilakukan pemerintah dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas Balai Arkeologi Denpasar?

4.3 Tujuan penelitian

Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini, yaitu:

1) Mengetahui Bagaimana peranan Balai Arkeologi Denpasar dalam mendukung bidang pendidikan di Bali;

2) Mengetahui bagaimanakah peranan Balai Arkeologi Denpasar dalam mendukung dunia Pariwisata di Bali;

3) Mengetahui Upaya-upaya apakah yang dilakukan pemerintah dan masyarakat dalam meningkatkan kwalitas Balai Arkeologi Denpasar.

4.4 Manfaat Penelitian

1) Mendekatkan dan membandingkan ilmu pengetahuan yang diproleh di sekolah dengan kehidupan nyata, melalui pengamatan secara langsung terhadap benda-benda purbakala yang berada di Balai Arkeologi Denpasar;

2) Menumbuhkan kesadaran dikalangan pelajar pada khususnya siswa SMA maupun masyarakat pada umumnya tentang pentingnya keberadaan Balai Arkeologi Denpasar sebagai salah satu tempat untuk melestarikan, merawat, mengawetkan peninggalan benda-benda masa lampau;

3) Memberikan pengetahuan tambahan dan wawasan ilmu pengetahuan bagi guru, siswa, dan masyarakat sehingga dapat diimplementasikan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM).

V. Tinjauan Pustaka

5.1 Balai Arkeologi

Arkeologi merupakan suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari manusia dan kebudayaan masa lampau melalui aset-aset masyarakat masa lampau. Dengan mempelajari ilmu arkeologi, maka kita dapat mengetahui sejarah dan kebudayaan masyarakat masa lampau, seperti halnya cara-cara hidup, mata pencaharian, maupun proses-proses budaya yang pernah terjadi pada masa itu. Manfaat mengetahui sejarah dan kebudayaan di masa lampau adalah tidak lain sebagai renungan dan cerminan dalam menapaki sejarah dan kebudayaan masa kini dan masa yang akan datang, baik dibidang ekonomi, tata pemerintahan maupun dibidang pendidikan.

Beberapa manfaat dari mempelajari ilmu arkeologi, diantaranya: 1) untuk kepentingan ekonomi, yaitu sebagai salah satu pendukung dunia kepariwisataan (menambah devisa negara), 2) untuk kepentingan akademik, yaitu sebagai penyelamat sumber-sumber data bagi pengembangan ilmu arkeologi, 3) untuk kepentingan idiologis, yaitu guna memantapkan budaya yang berkaitan dengan fungsi-fungsi pendidikan.

Sebagai salah satu upaya unuk mewadahi dan mengkoordinasikan pengembangan ilmu arkeologi,maka balai arkeologi memegang peranan penting.Adapun beberapa fungsi balai arkeologi,antara lain: 1) melaksanakan pengumpulan, pengawetan, dan penyajian benda-benda yang bernilai budaya, ilmiah yang berhubungan dengan ilmu arkeologi, 2) melakukan pengaturan urusan tata usaha dan urusan rumah tangga yang terdapat di balai arkeologi tersebut, 3) melaksankan pngkajian ilmiah serta memperpustakakan dokumen dalam penelitian serta memperkenalkan sekaligus menyebarluaskan dengan melakukan bimbingan edukatif kepada masyarakat, 4) melakukan pnelitian di wilayah bersangkutan.

Disamping sebagai pusat pengkajian ilmiah ilmu arkeologi, balai arkeologi merupakan sarana promosi dan informasi kepada masyarakat tentang benda-benda yang bernilai budaya yang berhubungan dengan ilmu arkeologi dan kepariwisataan. Sedangkan tujuan pendirian balai arkeologi,sebagai berikut: 1) mengkonstruksi sejarah kebudayaan tata cara hidup manusia serta proses budayanya, 2) mengungkapkan tingkah laku manusia dimasa lampau. Sehingga dapat memupuk serta menumbuhkembangkan kesadaran masyarakat tentang keberadaan seni dan budaya yang telah diwariskan kepada generasi penerusnya.

5.2 Cakupan Arkeologi

Arkeologi mencakup pengungkapan tingkah laku manusia di masa lampau agar dapat diketahui sejarah dan kebudayaan di masa lalu, cara-cara hidup, maupun proses budaya yang pernah terjadi. Adapun secara lebih rinci cakupan arkeologi, meliputi fase kehidupan, sistem penguburan, kepercayaan, pemukiman, corak kehidupan, alat-alat yang dipakai, serta perdagangan.

5.2.1 Fase Kehidupan

Fase kehidupan masyarakat masa lampau menyangkut ciri-ciri kehidupan, diantaranya: 1)ciri kehidupan masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan, 2) kehidupan bercocok tanam, 3) masa perundagian (Juwanto,1999). Lingkungan hidup manusia pada masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan merupakan keadaan alam yang masih liar, sehingga sangat tidak menguntungkan bagi manusia. Adapun Ciri-Ciri masyarakat berburu dan mengumpulkan makanan dalam kehidupannya diantaranya: hidup belum menetap dan masih berpindah-pindah, hidupnya langsung kepada alam (Food Gathering), hidup secara berkelompok, bergerak tidak terlalu jauh dari sungai, danau, pantai, sumber air yang merupakan sumber makanan, tempat berlindung sementara di gua-gua, penguburan bagi orang yang meninggal dengan bekal kayu, dan menggunakan alat dari tulang dan kayu.

Pada kehidupan bercocok tanam, mulai terjadi perkembangan masyarakatdan peradaban. Kehidupan bercocok tanam juga disebut sebagai revolusi kebudayaan. Adapun ciri-ciri bercocok tanam, yaitu: hidupnya menetap menyebabkan banyak penemuan baru, food gathering berubah menjadi food prodacing, mulai memelihara tanaman dan binatang, menebang dan membakar hutan untuk berladang dan pemukiman, populasi penduduk makin meningkat, adanya pembagian tugas antar kelompok unuk memenuhi kebutuhan bersama, alat-alat yang digunakan makin berkembang, dan berkembangnya unsur kepercayaan dalam meningkatkan dan mempertahankan hidup bersama.

Masa perundagian ditandai dengan semaraknya pembuatan alat-alat dari perunggu. Hal ini dilakukan dengan cara melebur biji logam (paduan timah dan tembaga) untuk membuat alat-alat yang diperlukan. Disamping pembuatan alat-alat dari perunggu, juga berkmbang keterampilan lainnya seperti: bidang pertanian dan pembuatan alat-alat gerabah. Ciri-ciri lainnya dari masa perundagian adalah masyarakat semakin komplit disertai dengan adanya pembagian kerja yang semakin ketat, timbulnya golomgan undagi yang terampil dalam pembuatan suatu usaha tertentu, misalnya pembuatan rumah, pembuatan perlengkapan dari kayu, gerabah, dan perhiasan, serta munculnya keyakinan tentang adanya kekuatan-kekuatan suprnatural sehingga usaha-usaha yang dianggap penting disertai dengan upacara-upacara tertantu.

5.2.2 Sistem penguburan

Tata cara penguburan merupakan sistem penanganan orang mati yang meliputi penanganan mayat sebelum penguburan, saat penguburan, dan upacara pengangkatan arwah ketingkat yang lebih tinggi. Pada dasarnya penguburan merupakan kegiatan budaya yang utuh, bukan sekedar penyingkiran mayat tanpa suatu makna apapun (suastika, 2002). Aspek utama dalam kegiatan penguburan adalah aspek gagasan yang merupakan nilai dan simbol yang berlaku dalam masyarakat. Penguburan merupakan rumusan bagian penting dalam ritus kepercayaan karena dalam penguburan terkandung pengertian tentang mati dan kesinambungan setelah mati. Kematian merupakan suatu proses peralihan dari kehidupan sementara dialam baka.

Pemahaman mengenai kematian tidak dapat dilepaskan dari kerangka pilar tentang kebudayaan sebagai suatu sistem yang meliputi 3 komponen, yaitu gagasan, perilaku dan peralatan. Gagasan sebagai bagian dari sistem kebudayaan, merumuskan nilai-nilai dan simbol yang berlaku dalam masyarakat sekaligus merupakan bagian dari masyarakat. Gagasan tersebut diungkapkan dalam bentuk tindakan yang melibatkan interaksi masyarakat. Dalam praktiknya, suatu prilaku akan memerlukan sarana dalam bentuk peralatan. Ketiga komponen tersebut menentukan proses budaya sehingga dapat menimbulkan terjadinya budaya baru yang melahirkan nilai baru. Selanjutnya keberadaan nailai-nalai tersebut akan tercermin dalam bentuk nperilaku dan tindakan masyarakat, serta peralatan dan perlengkapan hidupnya.

Terkait dengan daerah Bali, maka berdasarkan beberapa peninggalan masa prasjarah dapat diketahui, bahwa pada masa lalu sidah dikenal sistem penguburan dengan wadah. Sistem penguburan ini nampak seperti penguburan disitus gilimanuk dengan berbagai bekal kuburnya (soejono,1997). Berdasarkan bukti-bukti tersebut,naka dapat dijlaskan bahwa perawatan dan penguburan mayat yang da laksanajan saat ani bukanlah hal baru, melainkan kelanjutan dari kebudayaan masa lsalu.Kebudayaan ini makin berkembang setelah masuknya budaya Hindu ke Bali.Dari bukti-bukti yang didapat dari hasil penelitian seperti di desa Pacung, desa Tejakula, desa Les, desa Sembiran, dan di desa Bondalem yang semuanya ada di Kabupaten Buleleng, dapat disimpulkan bahwa kebudayaan yang dimiliki sangat tua, yaitu dari masa berburu, masa bercocok tanam, masa perundagian, sampai ke masa Hindu.

5.2.3 Sistem Kepercayaan

Didalam kehidupan masyarakat prasejarah, sistem religi merupakan salah satu unsur kebudayaan yang bersifat universal dan sangat kompleks. Secara umum ada 5 unsur pokok yang berkembang dalam berbagai religi di dunia. Kelima unsur tersebut, yaitu: 1) emosi keagamaan, 2) sistm kepercayaan, 3) sistem ritual dan upacara, 4) peralatan situs dan upacara, serta 5) kelompok keagamaan atau satuan-satuan sosial yang mengonsepkan dan mengaktifkan religi serta sistem keagamaan (Koentjaraningrat,1980). Kepercayaan terhadap adanya kekuatan diluar kekuatan manusia sudah ada sejak konsep religi dikenal oleh manusia.

Bagi masyarakat prasejarah, kepercayaan terhadap kekuatan arwah, ada kehidupan sosialnya. Mereka percayabahwa ada kehidupan lain setelah kematian, yaitu didalam arwah atau supernatural. Kepercayaan ini mendorong mereka untuk brtempat tinggal di pegunungan, terutama pada hulu sungai dimana air tetap dianggap dapat menunjang kelangsungan hidup (Purusa,1999). Munculnya kepercayaan bahwa arwah nenek moyang bersemayam di suatu tempat yang, seperti dipuncak-puncak gunung. Hal ini menimbulkan kepercayaan bahwa puncak-puncak gunung merupakan tempat suci dan tempat bersemayamnya para dewa.

5.2.4 Pemukiman

Pemukiman merupakan tempat manusia mengelola lingkungannya, membangun tempat berlindung dari pengaruh panas, hujan, dan angin, serta merupakan pusat aktifitas dan religiusnya. Pemilihan lokasi pemukiman sangat bergantung kepada ketersediaan sumber daya yang akan dieksplorasi. Pada umunya, pemilihan lokasi pemukiman yaitu didekat sungai atau hutan yang kaya dengan sumber daya alam baik dalam bentuk flora atau fauna untuk menunjang kehidupan.

Oleh karena itu, bangunan-bangunan pemukiman didirikan dengan sumber mata air sedangkan bangunan yang berhubungan dengan kegiatan religius memilih lokasi di puncak gunung, bukit atau tempat lain yang lokasi lebih tinggi (purusa,1999).

5.3 Benda Benda Purbakala

5.3.1 Sarkofagus

Sarkofagus merupakan wadah mayat yang disesuaikan kedudukannya, agar kedudukannya si mati dalam alam arwah sama seperti ketika masih hidup. Adapun fungsi dari sarkopagus,yaitu untuk menempatkan orang yang sudah meninggal, dimana penempatan kepala mayat tersebut diarahkan ketempat asal atau tempat bersemayamnya roh nenek moyang.

Banyak bukti-bukti atau peninggalan masa lalu yang ditemukan dalam bentuk sarkopagus. Hal ini terlihat dari hasil penggalian kuburan-kuburan kuno di beberapa tempat, seperti di Bali dan Kalimantan. Hasil penggalian menunjukkan, bahwa arah kepala mayat selalu ke arah timur atau barat atau ke puncak-puncak gunung dan bukit.

5.3.2 Alat-alat dari Batu

Hasil budaya fisik zaman prasejarah, yaitu alat-alat yang terbuat dari batu. Para ahli berpendapat bahwa alat-alat dari batu merupakan tahap awal dari manusia untuk menguasai suatu bentuk teknologi sederhana, yang disebut dengan teknologi paleolitik. Di Indonesia alat-alat yang terbuat dari batu dengan berbagai bentuknya dikelompokkan dalam dua tradisi,yaitu tradisi kapak primbas dan tradisi alat serpih.

Daerah penyebaran kapak primbas, meliputi daerah Jawa, punung (pacitan), Gombong, Jampakukan, dan Parigi. Sedangkan di Sumatera, kaoak primbas ditemukan di daerah tambang sawah, lahat, dan kuanda. Di Kalimantan kapak primbas di temukan di daerah awang bangkal. Sementara itu di Sulawesi, ditemukan didaerah cabbenge. Untuk daerah Bali, kapak primbas ditemukan di daerah Sembiran dan Trunyan.

Peralatan dari batu tersebut dapat ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Peralatan ini dipakai sebagai alat untuk membantu manusia dalam mempertahankan hidupnya dan juga sebagai perhiasan. Adapu alat-alat tersebut antara lain: a) Beliung persegi, alat ini ditemukan dalam jumlah cukup besar di wilayah Indonesia. Beliung persegi ini diduga digunakan sebagai benda untuk perlengkapan upacara. Tempat penemuan Bliumg seperti ini, antara lain Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa tenggara; b) Kapak Lonjong, ada yang berukuran besar dan kecil dan sudah diasah halus. Tempat penemuan kapak lonjong, yaitu Maluku, Irian jaya, Sulawesi utara; c) Mata Panah,merupakan salah satu alat untuk berburu dan menangkap ikan; d) Gerabah, terbuat dari tanah liat yang dibakar, dan digunakan untuk menyimpan segala kebutuhan rumah tangga dan perhiasan; dan e) Perhiasan, pembuatannya biasanya menggunakan bahan-bahan yang ada disekitar lingkungan tempat tinggalnya.

Perkembangan berikutnya, yatu zaman batu besar, maka mulai dikenal bangunan-bangunan megalitik, seperti: a) Menhir, yaitu tugu batu tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang, b) Dolmen, meja batu tempat meletakkan sesaji kapada roh nenek moyang, c) Sarkofah (sarkofagus), adalah peti jenazah dari batu bulat dan utuh, d) Punden Berundak, yaitu bangunan suci tempat memuja roh nenek moyang, yang bentuknya segi empat dan bertingkat-tingkat, e) Waruga, adalah kubur batu berbentuk kubus dan bulat, dan f) Arca, merupakan simbol atau perlambang roh nenek moyang.

5.3.3 Nekara Perunggu

Nekara adalah semacam berumbung dari perunggu yang berpinggang di bagian tengahnya dan sisi atasnya tertutup. Bentuk nekara ini dapat disamakan dengan dandang yang ditelungkupkan. Nekara sebagai hasil dari masa perundagian, mempunyai bentuk unik dan pola-pola hias yang kompleks. Bentuk nekara pada umumnya tersusun dalam 3 bagian. Bagian atas terdiri dari bidang pukul datar dan bagian bahu dengan pegangan. Bagianh tengah merupakan silinder dan bagian berbentuk melebar.

Pola hias yang terdapat di nekara pada umumnya berbentuk pola hias geometrik dengan beberapa variasinya. Misalnya: pola hias bersusun, pola hias pilin, dan pola hias topeng. Nekara merupakan benda-benda atau alat-alat yang ada dalam kegiatan upacara yang berfungsi untuk: 1) genderang perang, 2) waktu upacara pemakaman, 3) upacara minta hujan, 4) sebagai benda pusaka atau benda keramat.

Nekara perunggu banyak sekali ditemukan didaerah nusantara. Nekara yang paling besar adalah nekara yang ditemukan di dekat Manuaba, daerah Pejeng (Bali). Karena itu, nekara tersebut di namakan ”Nekara Pejeng” atau ”Bulan Pejeng”. Nekara di Pejeng (Gianyar, Bali) berukuran sangat besar, yaitu tinggi 1,98 meter dan bidang pukulnya 1,60 meter. Nekara tersebut disimpan di Pura Penataran Sasih dan masih dipandang keramat oleh penduduk setmpat.

5.3.4 Kapak Perunggu

Secara tipologi, kapak perunggu digolongkan kedalam 2 golongan, yaitu: kapak corong dan kapak upacara. Umumnya kapak perunggu yang terdapat di Indonesia mempunyai semacam corong untuk memasukkan kayu tangkai. Oleh karena bentuknya menyerupai orang bersepatu maka di namakan ”kapak sepatu”. Adapun cara pembuatan kapak-kapak perunggu atau corong,banyak tanda-tanda yang menunjukkan teknik a cire perdue.

5.3.5 Gelang dan Cincin Perunggu

Gelang dan cincin perunggu umumnya tanpa hiasan. Tapi ada juga yang dihias dengan pola geometrik atau pola binatang. Bentuk-bentuk hiasan yang kecil mungkin dipergunakan sebagai alat tukar atau benda pusaka. Ada juga mata cincin yang berbentuk seekor kambing jantan yang ditemukan di Kedu (Jawa Tengah). Bandul (mata) kalung yang berbentuk kepala orang ditemukan di Bogor. Ada pula kelintingan perunggu berukuran kecil yang berbentuk kerucut, silinder-silinder kecil dari perunggu yang tiap ujung silinder ada yang berbentuk kepaloa kuda , burung atau kijang. Kelintingan banyak ditemukan di Malang, Jawa Timur.

5.3.6 Manik-Manik

Manik-manik sebagai hasil hiasan sesungguhnya sudah lama dikenal masyarakat Indonesia. Manik-manik di Indonesia memegang perana penting. Manik-manik digunakan sebagai bekal kubur, benda pusaka juga sebagai alat tukar. Manik-manik ditemukan hampir disetiap penggalian, terutama di daerah –daerah penemuan kubur prasejarah seperti Pasemah (Jawa barat), Gunung kidul ( Jawa Tengah), DI Jogjakarta, Besuki (Jawa Timur), dan Gilimanuk (Bali).

VI. Metode Penelitian

6.1 Rancangan Penelitian.

Rancangan penelitian menguraikan tentang gambaran umum tata cara serta metode-metode dalam pengamatan langsung di lapangan untuk memperoleh data yang akurat.Adapun langkah yang dilakukan untuk mendapatkan hasil dari penelitian ini, yaitu di antaranya, memilih dan menetapkan masalah, menentukan variabl dan instruumen penelitian, serta menentukan teknik pengumpulan dan analisis data.Adapun rancangan penelitiannya yang kami buat dalam bentuk bagan sebagai berikut:


Penjelasan:

Untuk memilih masalah terlebih dahulu dilakukan studi pendahuluan tentang Balai Arkeologi yang lebih banyak dilakukan di perpustakaan. Selanjutnya, merumuskan beberapa masalah yaitu:1) peranan Balai Arkeologi dalam bidang pendidikan, 2) peranan Balai Arkeologi dalam bidang pariwisata, dan 3) upaya pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas Balai Arkeologi Denpasar.

Setelah masalah dirumuskan maka langkah selanjutnya adalah menentukan variabel penelitian yang meliputi: 1) hubungan Balai Arkeologi dengan Pendidikan, 2) hubungan Balai Arkeologi dengan Pariwisata, dan 3) upaya peningkatan kualitas oleh masyarakat dan pemerintah terhadap Balai Arkeologi Denpasar. Pencarian data yang berkaitan dengan variabel tersebut dilakukan di Balai Arkeologi Denpasar. Oleh karena itu disusun instrumen peneletian untuk pengambilan data di lokasi penelitian.

Data-data yang telah terkumpul, selanjutnya dianalisis secara deskriptif sehingga menjadi data-data yang dapat memberikan makna secara sistematis. Semua langkah tersebut disusun dalam suatu tulisan yang selanjutnya berbentuk laporan penelitian.

6.2 Objek Penelitian

Objek penelitian ini meliputi peran Balai Arkeologi dalam bidang Pendidikan dan Pariwisata serta upaya-upaya peningkatan kualitas Balai Arkeologi yang dilakukan di Balai Arkeologi Denpasar berdasarkan variabel penelitian yang sudah di tentukan sebelumnya.

6.3 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan suatu cara yang digunakan untuk mendapatkan informasi yang objektif. Instrumen penelitian memaparkan macam, bentuk, serta cara penggunaan instrumen penelitian yang akan di pakai untuk mengumpulkan data. Pada dasarnya instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa table kerja yang berisi daftar pertanyaan untuk dicarikan jawabannya. Disamping itu didukung juga dengan alat rekam seperti tape recorder dan kamera untuk mendokumentasikan hasil penelitian.

Adapun instrumen yang berupa daftar kajian pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

No

Aspek yang dikaji

Deskripsi Hasil Penelitian

1

Peranan Balai Arkeologi Denpasar dalam bidang pendidikan

A

Tingkat kunjungan

a) Tingkat kunjungan TK

b)Tingkat kunjungan SD

c) Tingkat kunjungan SMP

d)Tingkat kunjungan SMA

e)Tingkat kunjungan PT

f) Tingkat kunjungan masyarakat

B

Lama kunjungan

a) Kunjungan TK

b) Kunjungan SD

c) Kunjungan SMP

d) Kunjungan SMA

e) Kunjungan PT

f) Kunjungan masyarakat

C

Dari pelajar yang berkunjung,apa saja tujuannya?

D

Adakah tenaga pengajar yang mengunjungi Balai Arkeologi ini?

E

Seberapa besar minat tenaga pengajar untuk Mengunjungi Balai Arkeologi ini?

F

Tenaga pengajar yang melakukan penelitian disini.

2

Peranan Balai Arkeologi Denpasar dalam menunjang dunia pariwisata.

A

Peran Balai Arkeologi Denpasar ini dalam menunjang dunia pariwisata.

B

Presentase pengunjung yang datang yang merupakan pengunjung asing

C

Peran investor asing terhadap Balai Arkeologi ini.

D

Peranan mereka terhadap Balai Arkeologi ini.

E

Koleksi yang ada,mampu atau tidak menarik minat wisatawan untuk berkunjung kesini.

F

Tujuan wisatawan asing mengunjungi Balai Arkeologi ini.

G

Kerjasama antara Balai Arkeologi dengan agen-agen pariwisata.

H

Agen yang melakukan kerjasama dengan Balai Arkeologi ini.

I

Manfaat yang didapat oleh Balai Arkeologi dalam melakukan kerjasama dengan pihak lain.

3

Upaya-upaya pemerintah dan masyarakat terhadap Balai Arkeologi Denpasar.

A

Tujuan mendirikan Balai Arkeologi Denpasar ini.

B

Dampak positif dari berdirinya Balai Arkeologi ini terhadap masyarakat.

C

Dampak negatif dari berdirinya Balai Arkeologi ini terhadap masyarakat.

D

Pendapat masyarakat sekitar tentang berdirinya Balai Arkeologi ini.

E

Besar minat pengunjung sejak didirikannya Balai Arkeologi ini.

F

Kendala yang dihadapi pengelola dalam mengelola Balai Arkeologi ini.

G

Koleksi yang ada di Balai Arkeologi ini.

H

Darimana di dapatkan koleksi tersebut?

I

Sistem perawatan terhadap koleksi tersebut.

J

Pengaruh keberadaan Balai Arkeologi ini terhadap masyarakat.

K

Respon pemerintah terhadap adanya Balai Arkeologi Denpasar ini.

L

Usaha dari Balai Arkeologi untuk melakukan pengenalan kepada masyarakat luas.

M

Peran pemerintah dalam usaha pelestarian Balai Arkeologi ini.

N

Upaya pemerintah untuk mengembangkan Balai Arkeologi ini.

O

Kerjasama dengan pihak lain dalam upaya pelestarian dan pengembangan Balai Arkeologi ini.

P

Peran masyarakat dalam usaha pengembangan dan pelestarian Balai Arkeologi ini.

Dalam penelitian ini juga digunakan metode wawancara. Oleh karena itu dipersiapkan daftar pertanyaan untuk memperkuat kualitas data yang diperoleh memlaui observasi. Adapun daftar pertanyaannya, disajikan pada tabel berikut:

No

Pertanyaan

Jawaban

1

Bagaimana pengaruh balai Arkeologi terhadap dunia pendidikan?

2

Bagaimana tingkat kunjungan pada siswa dari TK sampai SMA?

3

Mengapa Balai Arkeologi memiliki peranan terhadap dunia pendidikan?

4

Apa manfaat Balai Arkeologi terhadap dunia pendidikan?

5

Apa cakupan Balai Arkeologi terhadap dunia pendidikan?

6

Apa kaitan antara Balai Arkologi dengan dunia pendidikan?

7

Dalam Balai Arkeologi, dibidang manakah yang memiliki peranan penting terhadap dunia pendidikan?

8

Apakah dampak positif Balai Arkeologi terhadap dunia pendidikan di Bali?

9

Apakah dampak negatif Balai Arkeologi terhadap dunia pendidikan di Bali?

10

Adakah kesulitan yang dihadapi Balai Arkeologi dalam meningkatkan dunia pendidikan di Bali?

11

Apa peran Balai Arkeologi dalam dunia Pariwisata di Bali?

12

Bagaimana pengaruh Balai Arkeologi terhadap dunia Pariwisat di Bali?

13

Mengapa Balai Arkeologi mempunyai peran penting bagi perkembangan pariwisata ?

14

Mengapa Balai Arkeologi memiliki peranan terhadap dunia pendidikan?

15

Apa manfaat Balai Arkeologi terhadap dunia Pariwisata di Bali?

16

Apa cakupan Balai Arkeologi terhadap dunia Pariwisata?

17

Apa kaitan antara Balai Arkologi dengan dunia Pariwisata?

18

Dalam Balai Arkeologi, dibidang manakah yang memiliki peranan penting terhadap dunia Pariwisata di Bali?

19

Apakah dampak positif Balai Arkeologi terhadap dunia Pariwisata di Bali?

20

Adakah dampak negatif Balai Arkeologi terhadap dunia Pariwisata di Bali?

21

Adakah kesulitan yang dihadapi Balai Arkeologi dalam meningkatkan dunia Pariwisata di Bali?

22

Upaya-upaya pemerintah dan masyarakat terhadap Balai Arkeologi Denpasar.?

23

Tujuan mendirikan Balai Arkeologi Denpasar ini.?

24

Dampak positif dari berdirinya Balai Arkeologi ini terhadap masyarakat.?

25

Apa dampak negatif dari berdirinya Balai Arkeologi ini terhadap masyarakat?

26

Bagaimana pendapat masyarakat sekitar tentang berdirinya Balai Arkeologi ini?

27

Seberapa besar minat pengunjung sejak didirikannya Balai Arkeologi ini?

28

Apa saja kendala yang dihadapi pengelola dalam mengelola Balai Arkeologi ini?

29

Koleksi apa saja yang ada di Balai Arkeologi ini?

30

Darimana di dapatkan koleksi tersebut?

31

Bagaimana sistem perawatan terhadap koleksi tersebut?

32

Adakah pengaruh keberadaan Balai Arkeologi ini terhadap masyarakat?

33

Bagaimana respon pemerintah terhadap adanya Balai Arkeologi Denpasar ini?

34

Adakah usaha dari Balai Arkeologi untuk melakukan pengenalan kepada masyarakat luas?

35

Adakah peran pemerintah dalam usaha pelestarian Balai Arkeologi ini?

36

Apakah upaya pemerintah untuk mengembangkan Balai Arkeologi ini?

37

Adakah kerjasama dengan pihak lain dalam upaya pelestarian dan pengembangan Balai Arkeologi ini?

38

Apakah peran masyarakat dalam usaha pengembangan dan pelestarian Balai Arkeologi ini?

6.4 Teknik Pengumpulan Data

Data atau informasi yang dikumpulkan dalam karya tulis ini terdiri dari kegiatan pada Balai Arkeologi, metide yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode wawancara dan metode observasi. Metode wawancara digunakan untuk mendapatkan informasi dari narasumber atau pengelola Balai Arkeologi Denpasar. Metode wawancara diterapkan untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang telah dirancang dalam Instrumen Penelitian dan untuk memperjelas informasi yang dimaksud, maka dilakukanlah observasi atau pengamatan langsung dilokasi penelitian sehingga data yang didapatkan lebih akurat dan terpercaya.

6.5 Analisis Data

Data merupakan informasi yang diperoleh melalui instrumen penelitian yang dikumpulkan melalui teknik wawancara dan observasi.Data yang didapatkan melalui teknik wawancara dan obsevasi tersebut berupa data deskriptif kualitatif. Data tersebut menjelaskan tentang hubungan Balai Arkeologi Denpasar terhadap dunia Pendidikan dan Pariwisata serta upaya-upaya Pemerintah dan Masyarakat untuk meningkatkan kualitas Balai Arkeologi Denpasar.

Daftar Pustaka

Anonim. Seri Penerbitan Forum Arkeologi. Denpasar: Balai Arkeologi Denpasar, Bali

Juwanto, S.S. 2000. LKS Ratih. Sekawan: Klaten

Mochmoed, E. 1989. Dinamika Budaya Masyarakat Indonesia Pada Jaman Proto Sejarah. Jakarta

Pitana, I Gede. 1994. Masyarakat dan Kebudayaan Bali. Dinamika dan Peradaban Masyarakat Bali. Denpasar

Purusa M, I Nyoman. 1999. Temu Budaya II: Denpasar

Purusa M, I Nyoman. 2002. Relief Manusia Kanakang pada Sarkopagus Selat, Buleleng

Suastika, I Made. 2002. Tata Cara Penguburan di Desa Pacung Buleleng Bali. Seri Penerbitan Forum Arkeologi Denpasar: Balai Arkeologi Denpasar

Wardono, Agus. 2006. Kreatif Jawa Tengah: Pakarindo

Label:

posted by admin @ 07.36  
0 Comments:

Poskan Komentar

<< Home
 
Kepala Sekolah
Photobucket  
Berita Terkini
Dokumen
Rujukan
© SMAN 1 BANJAR, BULELENG Blogger Templates by ICT Team